Opini: Ketika konvoi utawa rombongan “menyapa” di jalan raya lebih baik #cari_aman sahaja, selama tidak arogan

Salah satu contoh konvoi arogan. Foto. ridertua

#cari_aman – motorrio.com – Konvoi, satu kata yang bisa memberi dua efek bagi penggguna jalan diluar konvoi, baik itu konvoi roda dua maupun roda empat: menyenangkan dan menyebalkan.

Sudah tak terhitung berapa kali pengguna jalan lain merasa sebal dan terganggu dengan adanya konvoi atau rombongan yang melintas dengan perilaku kurang sopan, melanggar lalu lintas, bahkan yang paling parah arogan! Seperti ditulis macantua dan ridertua di blognya 

MR coba lempar masalah ini di salah satu grup WA dengan kasus yang MR alami sendiri di malam sebelumnya, dimana MR saat itu naik mobil, berada disisi kiri tiba-tiba dari arah kanan ada sekitar empat motor berombongan yang entah hendak kemana memepetkan motornya, memblayer dan tetot beberapa kali serta mepet-mepet kesisi mobil MR minta jalan! Sempat sebal saat itu, karena seharusnya namanya orang minta jalan atau pindah lajur lebih bijak gunakan sein, lihat kondisi jalan ramai atau tidak, baru minta jalan.

Beberapa respons yang MR dapat dari grup WA cukup beragam, ada yang bilang: 

  1. Diklakson aja kok baper
  2. Kalau rombongan biasanya cenderung arogan apapun kendaraannya 
  3. Woles aja kalo ketemu rombongan touring lebih baik minggir #cari_aman yang penting mereka gak arogan terlebih ada pengawalan patwal
  4. Beda pandangan saja, karena saya bawa mobil mereka naik motor, dan beberapa pendapat lainnya

Beberapa pendapat diatas klop dengan yang ditulis ridertua, Iring-iringan konvoi semakin arogan yang poinnya MR kutip dibawah ini:

Padahal dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang diutamakan untuk diberi jalan yaitu ambulan dan pemadam kebakaran ketika sedang menjalankan tugas kemanusiaan, seperti membawa pasien ke rumah sakit dalam keadaan gawat darurat atau menuju lokasi kebakaran.

Mengenai hal ini, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), Edo Rusyanto mengatakan bahwa konvoi bisa saja menciptakan rasa arogansi untuk meminta prioritas (didahulukan). Walau hal ini tidak melibatkan keseluruhan anggota, aksi ini tentu saja akan membahayakan, seperti menerobos lampu merah atau melewati jalur berlawanan arah.

Ia menjelaskan bahwa sikap arogansi terbagi menjadi dua, yaitu euforia, berkendara secara beramai-ramai karena ingin menunjukkan sesuatu, entah itu eksistensi atau hegemoni. Dan mentalitas massa yang membuat keberanian semu, yaitu menggeser rasa bersalah dari individu ke kelompok. Namun kedua hal ini bisa diatasi dengan edukasi dan penanaman kesadaran akan keselamatan jalan sebagai prioritas.

Nah, kesimpulan dan pelajaran yang bisa MR petik dari masalah per-konvoi-an atau pe-rombongan ini ya ngalah ae, tinimbang podo edane, malah arep mangan uwong, alias #cari_aman, bukan takut lho ya!!
Dan buat yang ikut konvoi bin rombongan, tancapkan pemahaman bahwa di manapun dan kapanpun ada hak dan kewajiban orang lain, karena dalam posisi tersebut membawa nama klub, komunitas atau apapun jenis perkumpulan yang diikuti, akan memberi efek bagi perkumpulan tersebut, bisa baik maupun buruk.

Bagaimana menurut mazbro n mbaksis mengenai konvoi atau rombongan non pengawalan polisi yang seringkali grusa grusu dan merugikan pengguna jalan lain?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s