Misteri keanehan urutan bilangan dalam boso Jowo……

motorrio.com – Artikel OOT nih, sebagai selingan ditengah gencarnya pemberitaan duo Honda baru -Sonic150R dan CB150R facelift, biar ga jenuh baca blog mikro ini 🙂 Seperti kita ketahui bersama, budaya Jawa memang terkenal dengan kearifan, filosofi yang tinggi, keunikan dan klenik yang terkandung didalamnya, karena memang budaya Jawa sudah ada sejak berabad-abad yang lalu,  bahkan bisa dikatakan sebagai sebagai salah satu peradaban tertua didunia. Nah….via grup WA, salah satu rekan kebetulan sharing mengenai keanehan urutan bilangan dalam bahasa Jawa, yang setelah MR baca amat filosofis. Mau tau seperti apa misteri keanehannya?? Monggo kita simak sama-sama ya……

Mencermati urutan bilangan, terutama dalam bahasa Jawa, akan menimbulkan pertanyaan tentang nama bilangan yang menyimpang (berbeda) dari pola yang ada.

Penyimpangan tersebut terjadi pada beberapa angka sampai angka 60. Ya, hanya sampai angka 60, tidak jauh-jauh dari capaian usia manusia Jawa pada umumnya. Sepertinya penyimpangan tersebut memang ditujukan untuk mengingatkan usia manusia.

Coba kita lihat……

Pertama angka 11-19 tidak disebut sepuluh siji, sepuluh loro, …, sepuluh songo; melainkan sewelas, rolas,…, songolas. Disini sepuluhan diganti welasan. Artinya pada usia 11-19 adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) terutama kepada lawan jenis. Masa akil balik. Masa remaja. Dalam banyak bahasa bilangan 11-19 memang diberi nama dengan pola yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan belasan. Dalam bahasa Inggris disebut dengan teen, sehingga remaja pada usia tersebut disebut teenagers.

Selanjutnya bilangan 21-29 dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada. Dalam bahasa lain biasanya sesuai pola. Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua,…, dua puluh sembilan. Dalam bahasa jawa tidak diberi nama rongpuluh siji, rongpuluh loro, dst; melainkan selikur, rolikur, …, songo likur.

Di sini terdapat satuan LIKUR yang tidak lain merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi. Pada usia 21-29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya.

Namun demikian ada penyimpangan di atas penyimpangan tadi. Bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe. SELAWE singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok. Puncak asmaranya laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Maka pada usia tersebutlah pada umumnya orang menikah (dadi manten). Mungkin tidak tepat pada usia 25, tapi diantara 21-29 lah yang pas.

Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah. Bilangan selanjutnya sesuai dengan pola: telung puluh, telung puluh siji, telung puluh loro, dst.

Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50. Setelah sepuluh, rongpuluh, telung puluh, patang puluh, mestinya limang puluh. Tapi 50 namanya menjadi seket. Pasti ada sesuatu di sini. SEKET dapat dipanjangkan menjadi SEneng KEthonan, suka memakai kethu/tutup kepala/topi/kopiah.

Tanda Usia semakin lanjut, tutup kepala bisa utk nutup botak, atau rambut yg memutih. Di sisi lain bisa juga  Kopiah atau tutup kepala melambangkan orang yang beribadah. Pada usia 50 mestinya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya.

Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.

Dan kemudian masih ada satu bilangan lagi, yaitu 60, yang namanya menyimpang dari pola, bukan enem puluh melainkan sewidak atau suwidak. SEWIDAK dapat dipanjangkan menjadi SEjatine WIs wayahe tinDAK.

Artinya: sesungguhnya sudah saatnya pergi. Maka kalau usia kita sudah mencapai 60, lebih berhati-hatilah dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus.

Nah….sudah jelas kan apa yang dimaksud penyimpangan tadi? Ternyata, penyimpangan tersebut memiliki arti mendalam apabila kita telaah lebih lanjut, dan arti tersebut untuk mengingatkan kita akan adanya tiap tahap dalam kehidupan kita, yang berujung juga pada kodrat kita sebagai makhluk Yang Maha Kuasa. Selamat melaksanakan ibadah puasa mazbro n mbaksis….

MR Contact
Email : motorrioblog@gmail.com
Google+ : motorrio
You tube : motorrio rio
Instagram: motorrioblog
Other blog : bikesandcarsworld.wordpress.com

Advertisements

9 responses to “Misteri keanehan urutan bilangan dalam boso Jowo……

  1. Yupzzz penuh dengan filosofi.

    Like

  2. Jozzz baru tau :v

    Like

  3. Filosofi yang dalam..

    Like

  4. Blog Mikro?

    Pak Mantri mah Kupedes Mikro dibawa ke Blog…ekekekekek,

    Like

  5. Wong jowo ki paling jago nek dikongkon othak-athik gathuk.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s