Kawasaki W175 SE test ride, back to 80’s….

Kawasaki W175 SE test ride – motorrio.com – Segmen motor hobi memang jadi jualan utama di Indonesia oleh pabrikan Jepang yang bermarkas di Hamamatsu ini. Dan bisa dikata Kawasaki selalu jadi pioneer pada segmen motor hobi. Ninja 250, KLX 150 adalah dua nama yang begitu melekat di benak para biker Indonesia di segmen sport dan trail. Kali ini Kawasaki kembali menjadi pioneer dengan merilis motor retro pertamanya di kelas low, W175, dan alhamdulillah MR berkesempatan menjajal W175 SE milik Cak Chimky yang juga owner Vespa S125 yang pernah MR jajal tahun lalu.

Spidometer minimalis tanpa meter bahan bakar

Riding bareng Kawasaki W175 SE, kita berasa balik ke tahun 80-an, dengan desain yang memang retro klasik serba simpel, lampu bulat, tangki besar membulat yang, indikator yang hanya menunjukkan kecepatan tanpa meter bensin, jok datar dan tanpa besi pegangan buat boncenger, plus rem belakang tromol, plus pengabutan karburator, klasik banget ala motor tahun 80-an. 

Sayangnya kesan klasik terasa kurang dengan tiadanya kick starter – yang digantikan oleh full electric starter, standar tengah, dan desain rem cakram yang malah mirip motor underbone. Jika saja ketiga komponen tersebut direvisi, bakal makin kuat kesan klasiknya.

Ergonomi

Saat MR jajal naik di joknya, posisi riding bagi MR yang 183cm agak membungkuk kedepan walau oleh Cak Chimky sudah dimodifikasi dengan menambah raiser setang dan diganti model fatbar sehingga lebih lebar dan tinggi, namun masih terasa sedikit membungkuk. Tangkinya besar dan lebar, jadi posisi duduk agak mengangkang, dan efeknya paha bisa menjepit tangki dengan nyaman. Jok agak keras, dan menurut Cak Chimky, kalau dipakai turing jauh terasa kurang nyaman, jadi perlu dimodif lagi, kalau hanya city riding masih okelah.

Performa 

Mesin 175cc yang sepertinya turunan dari mesin Eliminator 175 ini memang dirancang untuk turing, bukan untuk kebut-kebutan, dan memang karakternya smooth, tidak spontan ketika gas ditarik mendadak, wong namanya aja retro bike, yang penting gayanya, kalau ngebut ngga sempet kelihatan dunk 😁. 

Sistem pengabutan yang masih menggunakan karburator Mikuni VM24, memang kurang mumpuni kalau buat ngebut lovers, tapi ini juga jadi kelebihan, karena pengabutan karbu terbilang lebih mudah dioprek oleh bengkel umum dibanding injeksi pada saat ini. Top speed? Ngga usah dicarilah, tapi kalau 100 kph masih bisa dan masih ada potensi lebih, tapi balik lagi ini motor buat showoff, bukan buat ngebut!

Pengereman

“Diameter teromol belakang yang kecil bikin pengereman kurang pakem”, kata Cak Chimky

Cak Chimky sempat bilang kalau rem belakang yang masih teromol kurang pakem karena diameternya yang kecil dan memang betul begitu adanya saat MR coba. Namun saat MR coba setel, masih bisa diatur lebih pakem, tinggal putar baut penyetel di tuas rem belakang, udah lumayanlah. 
Yang perlu dimodif supaya lebih retro adalah piringan cakram depan, jika diganti model ala motor tahun 80-an yang tanpa lubang pelepas panas disekujur piringan, bakal lebih tampak retro. 

Kalo boleh MR ambil kesimpulan, dari tes ride singkat seharian, Kawasaki W175 adalah motor harian buat showoff karena bentuknya yang retro klasik yang juga merupakan motor “bahan” yang bisa dimodifikasi jadi aliran retro apapun, mau Café Racer, Bratstyle, apa aja bisa, dan memang rata-rata owner W175 selalu memodifikasi motornya, jarang sekali yang membiarkannya standar saja.

Pingin showoff bin berasa balik ke era 80-an? Langsung ke showroom Kawasaki terdekat dan boyong deh Kawasaki W175 😁

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s